WhatsApp Icon

Dari Dapur Umum BAZNAS, Kisah Mashita Guru Penyintas Gempa NTT yang Bangkit dan Kuatkan Sesama

27/08/2026  |  Penulis: humas-baznas demak

Bagikan:URL telah tercopy
Dari Dapur Umum BAZNAS, Kisah Mashita Guru Penyintas Gempa NTT yang Bangkit dan Kuatkan Sesama

Keteguhan Guru di Manggarai: Dari Dapur Umum BAZNAS

Berita Nasional

Di tengah kepedihan mendalam akibat guncangan gempa bumi yang meluluhlantakkan wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), semangat kemanusiaan justru bersinar terang dari bilik-bilik Dapur Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Salah satu kisah inspiratif datang dari Mashita, seorang guru di Pondok Pesantren Pancasila Reok, warga Desa Salama, Kecamatan Reok (Reo), yang memilih untuk bangkit dan mendedikasikan dirinya sebagai relawan kemanusiaan meskipun ia sendiri merupakan korban terdampak bencana.

Musibah gempa tersebut meninggalkan duka berat bagi Mashita dan keluarganya. Rumah tempat ia bernaung hancur rata dengan tanah, memaksa kedua orang tuanya hingga kini harus bertahan hidup di posko-posko pengungsian darurat karena kondisi hunian yang belum aman untuk ditempati. Peristiwa menegangkan bermula ketika gempa hebat mengguncang saat Mashita tengah mengajar di pesantren. Di tengah kepanikan massal, naluri keibuannya sebagai pendidik langsung terpanggil untuk memprioritaskan keselamatan para santri sebelum memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Setelah memastikan seluruh anak didiknya berkumpul dengan selamat di tempat terbuka, barulah ia dapat bernapas lega dan segera menghubungi orang tuanya untuk memastikan keadaan mereka di rumah.

Bagi Mashita, harta benda dan bangunan rumah yang hancur masih dapat dibangun kembali di kemudian hari, namun keselamatan nyawa jiwa-jiwa terkasih jauh lebih berharga. Alih-alih meratapi nasib di tenda pengungsian, Mashita memilih untuk menyalurkan energi dan kepeduliannya dengan bergabung bersama BAZNAS menghidupkan dapur umum. Setiap hari, tepat selepas salat Subuh, ia bahu-membahu bersama para relawan lainnya meracik dan menyiapkan ratusan porsi makanan bergizi bagi para penyintas.

"Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada BAZNAS yang sudah menyediakan dapur umum. Ini sangat membantu, baik bagi warga sekitar maupun bagi saya pribadi," ujar Mashita mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran program kemanusiaan BAZNAS.

Setiap harinya, dapur umum BAZNAS secara konsisten memproduksi sebanyak 250 porsi makanan siap saji. Paket-paket pangan tersebut kemudian didistribusikan secara masif ke berbagai kampung serta posko-posko mandiri yang belum terjangkau atau belum menerima suplai logistik yang memadai. Lebih dari sekadar bantuan pangan pemenuhan kebutuhan jasmani, seporsi makanan hangat dari BAZNAS ini dimaknai oleh Mashita sebagai simbol kepedulian nyata untuk menguatkan mental warga yang tengah diuji masa-masa krisis.

Sebagai seseorang yang merasakan langsung pahitnya kehilangan tempat tinggal dan rasa aman, Mashita memiliki kepekaan mendalam terhadap penderitaan sesama penyintas. Pengalaman traumatis tersebut justru menjadi bahan bakar utama bagi keteguhan hatinya untuk terus bergerak meringankan beban orang lain.

"Walaupun rumah saya terdampak dan sebagian runtuh, semangat saya tidak akan pernah runtuh untuk membantu teman-teman yang juga terdampak. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," tegas Mashita penuh keteguhan.

Kehadiran dapur umum BAZNAS tidak hanya berfungsi sebagai titik distribusi logistik, melainkan menjelma menjadi ruang pemulihan kolektif (healing space) bagi Mashita dan masyarakat NTT. Di tempat ini, ia tidak diposisikan semata-mata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai aktor aktif yang ikut merangkul dan menyalurkan harapan bagi sesama warga yang tertimpa musibah.

Meski realitas hari ini menunjukkan bahwa rumah tinggalnya belum pulih dan kedua orang tuanya masih tinggal di posko pengungsian, Mashita membuktikan bahwa proses kebangkitan (recovery) sejati tidak harus menunggu seluruh aset materi kembali utuh. Terkadang, bangkit berarti tetap memiliki kelapangan hati untuk mengulurkan tangan menolong sesama, kendati diri sendiri tengah berada dalam keterbatasan ruang gerak.

"Harapan saya ke depan ada uluran tangan dari para dermawan yang ikhlas membantu para penyintas gempa. Bantuan tersebut tidak harus sekaligus, tetapi bisa diberikan secara perlahan, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk teman-teman lain yang rumah dan kehidupannya terdampak gempa," pungkasnya dengan penuh asa.

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Demak.

Lihat Daftar Rekening →